Pemkab Halsel Lakukan Verifikasi Perubahan Warna Perairan Pulau Obi, Sampel Dikirim ke Laboratorium

LABUHA, OM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Halmahera Selatan melakukan verifikasi lapangan terhadap fenomena perubahan warna perairan yang terjadi di Desa Madopolo dan sekitarnya, Kecamatan Obi Utara. Sebagai bagian dari proses identifikasi, tim DLH mengambil sampel air laut yang selanjutnya dikirim ke Laboratorium Manado, Sulawesi Utara, untuk dilakukan pengujian.

Kepala DLH Kabupaten Halmahera Selatan, Samsu Abubakar, mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat mengenai perubahan warna air laut di sekitar Pelabuhan Jojame, Desa Madopolo. Pengambilan sampel dilakukan secara langsung oleh tim yang dipimpinnya guna memperoleh dasar ilmiah dalam menentukan penyebab fenomena tersebut.

“Merespon dengan turun ke lokasi guna memastikan laporan warga karena banyak spekulasi liar yang dapat menyesatkan publik jika tidak segera ditangani, kami langsung mengambil sampling air yang berubah warna tersebut dan mengirimkan ke laboratorium Manado Sulut,” katanya.

DLH menjelaskan bahwa proses pengujian laboratorium menjadi tahapan penting untuk memastikan penyebab perubahan warna perairan. Berdasarkan pengamatan awal di lapangan terdapat beberapa kemungkinan yang masih memerlukan pembuktian melalui hasil analisis laboratorium sebelum dapat ditarik kesimpulan.

“Perubahan warna air ini jika dikaitkan dengan limbah perusahan itu sulit karena perubahan air berada di Utara, sementara wilayah operasi ada di Selatan jadi sangat dulu membuat spekulasi yang menyesatkan publik, dugaan sementara perubahan air Adalah fenomena alam blooming fitoplakton namun hasil pastinya menunggu hasil dari laboratorium Manado Sulut,” tuturnya.

DLH juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan kepada instansi berwenang apabila menemukan fenomena serupa di wilayah lain serta menghindari penyebaran informasi yang belum didukung hasil pemeriksaan. Dalam peninjauan lapangan, DLH turut melakukan pengecekan terhadap kondisi perairan di Kawasi dan sekitarnya sebagai bagian dari verifikasi.

“kami juga ketika berada di Madopolo, kami juga cek air laut di Kawasi dan sekitranya namun perubahan ini hanya terjadi di wilayah di Utara Obi,” papar Samsu.

Fenomena perubahan warna perairan tersebut sebelumnya dilaporkan terjadi di kawasan pesisir Desa Jikotamo, Dermaga Jojame, dan Anggai di Kecamatan Obi, sebelum terpantau meluas hingga wilayah perairan Desa Madopolo di Kecamatan Obi Utara. Berdasarkan laporan masyarakat, kondisi tersebut juga diikuti dengan ditemukannya sejumlah ikan budidaya yang mati.

Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Prof. Muhammad Aris, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis keilmuan dan pemetaan spasial, fenomena tersebut memiliki karakteristik yang berkaitan dengan dinamika musim kemarau dan peningkatan suhu perairan.

“Jika perubahan warna air ini dikaitkan langsung dengan aktivitas industri, secara lokasi sama sekali tidak tepat. Perubahan warna air dominan terjadi di wilayah utara, sementara kawasan industri berada di arah selatan, arah perairannya berlawanan,” ungkap Prof. Aris.

Secara teknis, Prof. Aris memaparkan bahwa kondisi musim kemarau yang disertai peningkatan suhu perairan dapat memicu ledakan populasi fitoplankton (algal bloom). Ketika populasi tersebut mencapai puncaknya dan kemudian mati secara bersamaan, proses penguraiannya dapat menurunkan kadar oksigen terlarut sekaligus menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida.

“Saat plankton mati dalam skala besar, kandungan bahan organik di air meningkat tajam. Proses penguraian organik oleh bakteri ini menyedot habis kadar oksigen terlarut di dalam air. Di saat bersamaan, proses mikroba tersebut menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida,” pungkasnya.

Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan DLH akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengidentifikasi penyebab perubahan warna perairan serta menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan berdasarkan hasil verifikasi ilmiah.